retno-marsudi-inh
Menlu Retno Marsudi menyatakan bahwa Indonesia menolak keras penggunaan kekerasan aparat Myanmar yang semakin brutal hingga menewaskan lebih dari seratus orang dalam sehari pada akhir pekan lalu. (Dok. Kemlu RI) foto: cnnindonesia.com

News INH, JAKARTA Indonesia menolak keras penggunaan kekerasan aparat Myanmar yang semakin brutal hingga menewaskan lebih dari seratus orang dalam sehari pada akhir pekan lalu. “Indonesia menolak keras penggunaan kekerasan aparat keamanan yang menyebabkan jatuhnya lebih dari 100 korban meninggal pada 27 Maret lalu. Ini tidak dapat diterima. Penggunaan kekerasan harus segera dihentikan,” kata Retno pada Selasa (30/3) kemarin.

Retno mengatakan bahwa seluruh pihak di Myanmar harus mengutamakan dialog dalam menyelesaikan masalah. Menurutnya, hanya jalur dialog yang dapat menyelesaikan masalah di Myanmar. Ia menyampaikan penolakan keras ini dalam jumpa pers virtual usai pertemuan bilateral dengan Menlu Jepang, Toshimitsu Motegi, di Tokyo. Retno mengatakan bahwa RI dan Jepang memiliki keprihatinan yang sama dalam melihat kekerasan di Myanmar.

BACA JUGA: Investigasi PBB: Houthi Bertanggung Jawab Atas Serangan Bandara Aden

Selain Motegi, Retno juga bertemu dengan utusan khusus Jepang untuk rekonsiliasi nasional di Myanmar, Yohei Sasakawa. Menurutnya, Sasakawa menghargai upaya Indonesia selama ini untuk membantu menangani situasi di Myanmar. “Dia (Sasakawa) sepakat dengan pesan Indonesia agar penggunaan kekerasan segera dihentikan dan segera dilakukan dialog. Apa yang terjadi di Myanmar akan mempengaruhi situasi di kawasan dan ASEAN,” ujar Retno.

Kerusuhan akibat kudeta militer terus memburuk di Myanmar, terutama setelah aparat keamanan kian brutal menindak demonstran anti-junta militer. Per Senin (29/3) kemarin, lembaga Asosiasi Bantuan untuk Tahanan Politik (AAPP) melaporkan sedikitnya 510 warga sipil tewas dua bulan sejak kudeta terjadi. Pasukan keamanan bahkan dilaporkan membunuh 114 orang, termasuk anak-anak, dalam sehari saat bentrok antara aparat dan pengunjuk rasa pro-demokrasi Sabtu (27/3) lalu.

BACA JUGA: Dua Bulan Kudeta Myanmar, 510 Orang Tewas di Tangan Aparat

Selain itu, bentrokan besar juga terjadi di dekat perbatasan Myanmar-Thailand antara pasukan militer dengan milisi dari pasukan etnis minoritas tertua di negara itu, Persatuan Nasional Karen (KNU). Akibat insiden itu, sekitar 3.000 penduduk desa melarikan diri ke Thailand.

Sumber : www.cnnindonesia.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *