penjara-pemuda-inhnews
Ruang Penjara Isolasi Israel: Selain menjadi tempat penyiksaan penjara isolasi itu juga dapat merusak mental para narapindana. /ist

News INH, HEBRON – 17 tahun di penjara dalam ruangan isolasi tahanan milik Israel. Mansour seorang pemuda Palestina akhirnya kini dapat menghirup udara segar. Mansour yang dulu di tangkap oleh bandan keamanan Israel pada tahun 2004 silam kini sudah kembali dan berkumpul bersama keluarganya.

Meski sudah dinyatakan bebas sejak 11 April kemarin, kondisi pria berbadan ceking ini mengalami depresi yang luar biasa akibat tekanan selama menjalani masa tahanan di sel isolasi itu. Manosur kini dinyatakan amnesia atau hilang ingatan lantaran tak lagi mengenali kelaurganya.

“Anak kami saat ini mengalami gangguan psikologis yang begitu dahsyat. Bahkan Mansour sudah tak lagi dapat mengenali kami. kurungan isolasi bertahun-tahun telah kehancuran psikologis anak kami, ” cerita Yousef Shahateet (73) orang tua Mansour seperti dilansir dari Anadolu Agency.

Ia menceritakan saat pertama kali Mansour ditangkap polisi Israel atas tuduhan menikam seorang pemukim Israel. Dua tahun kemudian dipersidangkan dan dijatuhi hukuman penjara selama 17 tahun.

“Dia telah berhenti mengenali wajah kami beberapa tahun yang lalu, karena dia dimasukkan ke dalam sel isolasi. Saya masih ingat ketika seorang sipir mengijinkannya kami untuk bertemu dengannya secara langsung, tatapan dia terlihat kosong,” kenangnya.

BACA:

Lawan Aksi Kebrutalan Zionis Israel, Ribuan Pemuda Gaza Turun Jalan

-Senyum Warga NTT Terima Bantuan dari INH dan Hasanjr11

Upaya hukum untuk mencari keadilan sudah dilakukan oleh pihak keluarga Mansour. Bahkan mereka sudah memohon dan meminta bantuan kepada organisasi internasional untuk campur tangan dan membantu mengakhiri kurungan isolasi putranya.

“Saat kami bertemu dengannya, dia tidak bisa berdiri, dia bersandar di atas saudara-saudaranya. Kami semua menangis ketika dia mengatakan pada jam kebebasan pertamanya bahwa semua rasa sakitnya adalah untuk kebebasan dan tanah air,” kata Yousef.

Ibunya mengatakan bahwa pada tahun 2004, tentara Israel menyerbu rumah mereka dan mengancam akan menghancurkannya.

“Mereka tidak menghancurkan rumah tetapi mereka telah menghancurkan putra saya, membawanya ke dalam tahanan dan memasukkannya ke dalam sel isolasi. Sel isolasi itu tidak manusiawi dan itu harus diakhiri. Hakim mengatakan putra saya harus berada di sel isolasi sampai kematiannya,” kata Yousef seraya mengusap air mata kesedihan.

Mansour sendiri sering dipindahkan dari satu penjara ke penjara lain sebagai bagian dari siksaan. Selama lebih dari tujuh tahun, keluarga tidak diizinkan mengunjungnya. Kemudian, keluarganya baru diberi izin untuk melihat putranya setahun sekali.

Sambil diduk diteras dan membolak-balik dokumen, Yousef mengatakan bahwa pada tahun 1948 dia telah kehilangan tanahnya, tetapi sekarang putranya telah kehilangan ingatannya.

“Ini telah menambah malapetaka. Apa yang harus saya minta ganti rugi, tanah yang sudah hilang yang saya miliki dokumennya atau anak laki-lakinya, yang tubuhnya bersama kita, tetapi tidak ingatannya?” dia berkata.

Sejak dibebaskan, Mansour menghabiskan hari-harinya di rumah keluarganya. Dia tidak ingin bertemu orang, meskipun orang tuanya berusaha mengajaknya berjalan-jalan.

Sementara itu Samah Jaber, Pisikolog yang bekerja di Kementrian Kesehatan Palestina menyatakan, sel isolasi dapat menyebabkan kemunduran mental. Manusia adalah makhluk sosial dan sebagian besar pengetahuannya tentang dirinya diambil dari refleksi orang lain.

“Dalam kondisi isolasi, satu-satunya yang ada adalah sipir yang mengontrol detail kehidupan manusia, dan di sana para narapidana benar-benar diisolasi dari setiap orang yang simpatik. Isolasi tersebut mencegah narapidana untuk berbicara kepada siapa pun, yang mengalihkan semua perhatian kepada diri yang bisa menyebabkan halusinasi, “tambahnya.

Baca: INH Salurkan 100 Paket Buka Puasa di Gaza Palestina

Jaber mengatakan bahwa narapidana yang terisolasi tidak memiliki kesempatan untuk berbagi ide atau kekhawatirannya dengan siapa pun untuk melindungi pikirannya dari kenakalan.

Ada sepuluh narapidana saat ini di sel isolasi di penjara Israel.

Menurut Masyarakat Tahanan Palestina, ada empat narapidana di isolasi yang menderita kondisi psikologis yang parah. Organisasi tersebut percaya bahwa menempatkan narapidana di sel isolasi adalah alat penyiksaan yang paling berbahaya.

Sumber : Anadolu Agency / Naqsyabandi Ahmad Revolusi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *