gaza-news-inh
Salah satu sudut perkampungan tempat tinggal warga Pelestina di desa Badui Khan al-Ahmar, di Tepi Barat / ist

News INH, PALESTINA – Lagi-lagi otoritas Israel melakukan tindakan yang menciderai hak-hak kemanusian warga Palestina. Berdalih untuk jadikan lokasi latian militer, sebuah desa di kawasan Lembah Jordan Utara, Timur Laut Tepi Barat yang merupakan pemukiman warga Palestina, Kamis (29/4/2021) waktu setempat digusur dan warganya disuruh pindah dari lokasi tersebut.

Dilansir dari Andadolu Agency, Moataz Basharat, seorang pejabat senior yang memantau kegiatan pemukiman Israel, mengatakan bahwa pasukan Israel memberi tahu penduduk desa Hamsa al-Fawqa untuk mengungsi dari rumah mereka saat latihan militer akan berlangsung Senin (3/5/2021) depan.

“Kami yakin tindakan otoritas Israel bertujuan mendeportasi penduduk Palestina dan ingin memberlakukan pembatasan pada mereka,” kata Basharat.

Baca Juga:
-Imigran Gelap Asal Israel Ancam Kedaulatan Palestina

-17 Tahun Dipenjara Israel, Pemuda Palestina Alami Gangguan Mental

Sementara itu, Kementerian Luar Negeri Palestina mengatakan keputusan evakuasi adalah ujian sebenarnya dari kredibilitas komunitas internasional yang tersisa dalam kemampuannya untuk memenuhi kewajibannya dan memikul tanggung jawabnya dalam menghentikan diskriminasi rasial dan proyek pendudukan.

“Apa yang diperlukan secara internasional adalah mengambil tindakan dan hukuman yang diperlukan terhadap kekuasaan pendudukan untuk mencegahnya melaksanakan rencana pemukimannya, dan untuk memberikan perlindungan internasional bagi rakyat Palestina,” katanya.

Kawasan penduduk di desa itu sebelumnya sempat mengalami empat kali pembongkaran. Desa tersebut adalah salah satu dari 38 desa Badui yang sebagian atau seluruhnya terletak di dalam sebuah ladang yang dinyatakan Israel sebagai lokasi latihan militer zionis Israel.

Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan (OCHA) memperkirakan bahwa sekitar 200 properti milik Palestina di Tepi Barat yang diduduki telah dihancurkan oleh otoritas Israel dalam tujuh minggu pertama tahun 2021, menyebabkan sedikitnya 285 orang mengungsi, termasuk 150 anak-anak.

Sumber : AA / Naqsyabandi Ahmad Revolusi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *