news-inh-pbb.jpg2
Pict: Anak-anak balita di Sudan Selatan kondisinya memperihatinkan. Krisis pangan dan bencana kelaparan terus membayangi kehidupan masyarakat setempat / ist

News INH, JUBA – Krisis pangan dan bencana kelaparan di Sudan bagian selatan terus mengalami peningkatan. Masa-masa sulit ini pun mengakibatkan masa depan negara termuda di benua hitam ini mengalami keterpurukan. Terlebih hanya beberapa lembaga donor internasional yang secara masif memberikan bantuan di negara itu.

Guna mengantisipasi terjadinya krisis pangan yang berkepanjangan ini, Janez Lenarcic Komisaris Uni Eropa untuk manajemen krisis menyatakan, akan memberikan bantuan kemanusian kepada negara tersebut.

“Situasi kemanusiaan di Sudan Selatan sangat mengerikan. Sebagian dari negara Afrika termuda ini menghadapi kondisi seperti kelaparan dan negara secara keseluruhan bersiap menghadapi krisis pangan terburuk yang pernah ada, ” kata Janez Lenarcic di Juba, Sudan Selatan, Kamis (22/4/2021) kemarin.

Baca Juga: Saling Serang Israel dan Suriah Memanas

Pihak Uni Eropa, lanjut Janez akan mengalokasikan bantuan kemanusiannya untuk memerangi kelaparan sebesar € 43,5 juta atau sekitar $ 51 juta. Dana tersebut akan digunakan antara lain untuk membantu mereka yang membutuhkan perlindungan dan bantuan pangan.

Krisis Pangan Meledak di Sudan Selatan
Foto: ist

Janez menambahkan, saat ini hanya ada sedikit minat dunia internasional terhadap situasi kelaparan akut di negara itu. Tercatat hanya lima lembaga donor internasional yang memberikan bantuan kemanusian ke Sudan Selatan.

“Kurangnya minat ini berisiko mengubah situasi berbahaya ini menjadi krisis yang terlupakan. Peningkatan respons kemanusiaan sangat dibutuhkan dari semua donor untuk memastikan tersedianya kapasitas yang memadai.Kondisi ini akan memperburuk keadaan tahun depan dengan lebih banyak nyawa yang hilang,” katanya.

Pejabat Uni Eropa mengunjungi Wilayah Administratif Jonglei dan Pibor di mana ia menyaksikan kondisi seperti kelaparan yang sebagian disebabkan oleh kekerasan sub-nasional dan banjir tahun lalu.

“Kekerasan yang terus berlanjut, terutama selama setahun terakhir, menyebabkan situasi kemanusiaan yang menghancurkan. Orang-orang kelaparan dan saya melihatnya dengan mata kepala sendiri kemarin ketika saya mengunjungi beberapa daerah di negara bagian Jonglei dan Pibor dan Likuangole,” pungkasnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *